Tampilkan postingan dengan label Logistics. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Logistics. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2013

Kebijakan Strategis Maritime Logistics

Sistem logistik nasional pada intinya mampu meningkatkan daya saing nasional, membantu meningkatkan kemakmuran rakyat dengan memfasilitasi perdagangan barang-barang yang dihasilkan oleh pusat-pusat industri di daerah-daerah. Selain itu juga harus dapat membantu menjaga kestabilan ekonomi dan keamanan nasional dengan adanya jaminan distribusi yang efisien, kompetitif dan lancar, terutama untuk bahan-bahan pokok dan baeang-barang yang strategis yang dibutuhkan oleh rakyat.

Tujuan utama dibuatkannya sistem logistik adalah memperlancar arus barang, meningkatkan pelayanan logistik sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global dan pasar domestik. Tujuan ini akan tercapai melalui iklim persaingan usaha yang sehat. Pada dasarnya pelaksanaan sistem logistik nasional untuk komoditas unggulan ekspor dan komoditas bebas mengikuti mekanisme pasar. Namun untuk komoditas pokok dan strategis dimungkinkan adanya intervensi oleh pemerintah untuk mengurangi disparitas dan gejolak harga di pasar domestik, mengingat daya beli masyarakat pada umumnya masih rendah sehingga kenaikan harga yang tak terkendali dapat menimbulkan gejolak sosial.

Dengan telah ditetapkannya 6 (enam) koridor pengembangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagaimana tertuang dalam MP3EI Sistem Logistik Nasional diharapkan dapat menjadi pengerak dalam mewujudkan visi ekonomi Indonesia tahun 2025 yaitu “Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur” sehingga akan tercapai sasaran PDB perkapita sebesar 14.250-15.500 (empat belas ribu dua ratus lima puluh hingga lima belas ribu lima ratus) pada tahun 2025. Untuk mewujudkan visi ini kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional harus ditegakkan, dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya nasional yang dimiliki dan dalam koridor rambu rambu perdagangan regional dan internasional.

Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan sebuah sistem distribusi yang baik, atau dengan kata lain harus ada sistem logitik nasional yang mampu mendistribusikan barang, jasa dan teknoligi secara murah (low cost), berkualitas, effisien dan berdaya saing. Hal ini dilakukan karena Indonesia adalah negara kelautan, yang terdiri atas beribu pulau yang terhubung oleh laut dengan kekayaan alam yang melimpah dan adanya pengakuan internasional terhadap zona ekonomi ekslusif pada perairan Indonesia mendorong upaya untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim melalui penerapan konsep wilayah depan (frontland) dan wilayah dalam (hinterland). Sehingga dengan adanya sistem logistik yang baik diharapkan mampu memperkokoh kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional.

Untuk mewujudkan sistem logistik yang berdaya saing maka peru dilakukan lompatan dan terobosan agar daya saing Indonesia dapat mengimbangi perkembangan daya saing negara-negara lain, karena negara lain di saat yang sama juga melakukan pembenahan terhadap sistem logistiknya. Secara makro, lompatan yang dapat dipertimbangkan adalah penerapan konsep wilayah depan dan wilayah dalam dengan menjadikan pelabuhan hub international menjadi Logistic Port. Secara mikro adalah (a) pengembangan pelabuhan short-sea shipping di wilayah, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Kawasan Indonesia Timur sebagai alternatif pengembangan infrastruktur jalan raya, dan (b) pengembangan logistic support di wilayah laut dalam untuk menunjang aktivitas eksploitasi kekayaan laut Indonesia.

Mengingat sistem logistik adalah sistem yang terpadu maka upaya peningkatan sinergi pusat daerah menjadi kebutuhan dalam mengintegrasikan seluruh kekuatan ekonomi nasional. Maka dibutuhkan roadmap maritime logistics yang disusun oleh Pemerintah Pusat dengan melibatkan Pemerintah Daerah/Pemda, dan masyarakat pelaku usaha, sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga tidak terjadi salah pembangunan. Salah merencanakan sistem logistik akan berakibat pada in efisiensi dan menimbuklan high cost ecomomy seperti yang terjadi dibeberpa infrastruktur pelabuhan kita.

Senin, 15 Juli 2013

Kebijakan Startegi Maritime Logistik Indonesia

Sistem logistik nasional pada intinya mampu meningkatkan daya saing nasional, membantu meningkatkan kemakmuran rakyat dengan memfasilitasi perdagangan barang-barang yang dihasilkan oleh daerah. Selain itu juga harus dapat membantu menjaga kestabilan keamanan nasional dengan menjamin distribusi yang kompetitif dan lancar, terutama untuk bahan-bahan pokok dan strategis yang dibutuhkan oleh rakyat.

Tujuan utama logistik adalah memperlancar arus barang, meningkatkan pelayanan logistik sehingga meningkatkan daya saing produk nasional di pasar global dan pasar domestik. Tujuan ini akan tercapai melalui iklim persaingan usaha yang sehat. Pada dasarnya pelaksanaan sistem logistik nasional untuk komoditas unggulan ekspor dan komoditas bebas mengikuti mekanisme pasar. Namun untuk komoditas pokok dan strategis dimungkinkan adanya intervensi oleh pemerintah untuk mengurangi disparitas dan gejolak harga di pasar domestik, mengingat daya beli masyarakat pada umumnya masih rendah sehingga kenaikan harga yang tak terkendali dapat menimbulkan gejolak sosial.

Dengan telah ditetapkannya 6 (enam) koridor pengembangan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagaimana tertuang dalam MP3EI Sistem Logistik Nasional diharapkan dapat menjadi penghela dalam mewujudkan visi ekonomi Indonesia tahun 2025 yaitu “Mewujudkan masyarakat Indonesia yang mandiri, maju, adil, dan makmur” sehingga akan tercapai sasaran PDB perkapita sebesar 14.250-15.500 (empat belas ribu dua ratus lima puluh hingga lima belas ribu lima ratus) pada tahun 2025. Untuk mewujudkan visi ini kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional harus ditegakkan, dengan memanfaatkan potensi dan sumberdaya nasional yang dimiliki dan dalam koridor rambu rambu perdagangan regional dan internasional.

Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan sebuah sistem distribusi yang baik, atau dengan kata lain harus ada sistem logitik nasional yang mampu mendistribusikan barang, jasa dan teknoligi secara effisien dan berdaya saing. Hal ini dilakukan karena Indonesia adalah negara kelautan, yang terdiri atas beribu pulau yang terhubung oleh laut dengan kekayaan alam yang melimpah dan adanya pengakuan internasional terhadap zona ekonomi ekslusif pada perairan Indonesia mendorong upaya untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim melalui penerapan konsep wilayah depan (frontland) dan wilayah dalam (hinterland). Sehingga dengan adanya sistem logistik yang baik diharapkan mampu memperkokoh kedaulatan dan ketahanan ekonomi nasional.

Untuk mewujudkan siste logistik yang berdaya saing maka peru dilakukan lompatan dan terobosan agar daya saing Indonesia dapat mengimbangi perkembangan daya saing negara-negara lain, karena negara lain di saat yang sama juga melakukan pembenahan terhadap sistem logistiknya. Secara makro, lompatan yang dapat dipertimbangkan adalah penerapan konsep wilayah depan dan wilayah dalam dengan menjadikan pelabuhan hub international menjadi Logistic Port. Secara mikro adalah (a) pengembangan pelabuhan short-sea shipping di wilayah, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Kawasan Indonesia Timur sebagai alternatif pengembangan infrastruktur jalan raya, dan (b) pengembangan logistic support di wilayah laut dalam untuk menunjang aktivitas eksploitasi kekayaan laut Indonesia.

Mengingat sistem logistik adalah sistem yang terpadu maka upaya peningkatan sinergi pusat daerah menjadi kebutuhan dalam mengintegrasikan seluruh kekuatan ekonomi nasional. Maka dibutuhkan roadmap yang disusun oleh Pemerintah Pusat dengan masukan dari Pemerintah Daerah/Pemda, sesuai dengan kebutuhan daerah, sehingga tidak terjadi salah pembangunan.

Kamis, 11 Juli 2013

Logistics Performance Indeks Indonesia


Logistic Performance Index (LPI) adalah, sebagai tolok ukur kinerja logistik yang sederhana, dengan LPI ini akan mencerminkan dalam perspektif global, apakah sebuah negara terkoneksi secara global. LPI diukur berdasarkan enam indikator yaitu:
  1. efisiensi proses clearance (bea cukai) (kecepatan, kemudahan dan terukur secara formal)
  2. kondisi infrastruktur perdagangan dan transportasi (pelabuhan, perkeretaapian, jalanan dan teknologi informasinya)
  3. kemudahan mencari kapal pengakutan barang
  4. kompetensi dan kualitas jasa logistik
  5. kemudahan proses pelacakan dan penelusuran barang
  6. ketepatan waktu. 
Berdasarkan data dari Logistic Performace Index (LPI) yang di keluarkan tahun 2012 Indonesia berada pada peringkat 59 dengan score LPI 2,94 dibawah Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam sebagaimana terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kinerja Logistik Negara ASEAN 2012


Peringkat LPI Dunia
Score LPI
Kepabeanan
Infrastruktur
Pelayaran Internasional
Daya Dukung Logistik
Tracking and Tracing
Ketepatan Waktu
Singapura
1
4.13
4.10
4.15
3.99
4.07
4.07
4.39
Malaysia
29
3.49
3.28
3.43
3.40
3.45
3.54
3.86
Thailand
38
3.18
2.96
3.08
3.21
2.98
3.18
3.63
Filipina
52
3.02
2.63
2.80
2.97
3.14
3.30
3.3
Vietnam
53
3.00
2.65
2.68
3.14
2.68
3.16
3.64
Indonesia
59
2.94
2.53
2.54
2.97
2.85
3.12
3.61
Laos
109
2.50
2.38
2.40
2.40
2.49
2.49
2.82
Kamboja
101
2.56
2.30
2.20
2.61
2.50
2.77
2.95
Myanmar
129
2.37
2.24
2.10
2.47
 2.42
2.34
2.59
Sumber : The Logistic Perfomance Index and Its Indicator , World Bank (2012)

Dalam LPI ada beberapa komponen yang menyususnnya yaitu kepabeanan (custom), infrastruktur, pelayaran internasional, daya dukung logistik, traking dan ketepatan waktu. Indonesia komponen yang memiliki score terendah adalah kepabenanan yang hanya sebesar 2.53, yang kemudian di ikuti oleh score infrastruktur sebesar 2,54 sebagaimana terlihat pada Gambar 3.2. di bawah ini.

Kemudian score tertinggi untuk komponen Indonesia adalah ketepatan waktu, scone ini hampir sama dengan negara Vietnam dan Thailand yang berada di atas kita untuk total score LPI-nya sebagaimana terlihat pada Gambar 1. di bawah ini.

Gambar 1. Grafik Kinerja Logistik Negara-negara ASEAN dan Komponen Penyususn LPI

Dilihat dari semenjak LPI di buat pada tahun 2007 Indonesia mengalamai peningkatan maupun penurunan score LPI sebagaimana terlihat pada Gambar 3.3. di bawah ini, pada tahun 2007 Indonesia berada pada rangking 43 dengan score 3,01, kemudian peringkatnya menurun menjadi peringkat ke 75 pada tahun 2010 dan kembali naik menjadi peringkat 59 dengan score LPI sebesar 2,94..

Rabu, 10 Juli 2013

Tantangan Maritime Logistics Indonesia


Sebagai negara maritim terbesar dunia Indonesia dan dihadapkan pada posisi geopolitik dan geoposisi yang strategis. Ini tercermin dari keberadaan Selat Malaka, selat ini merupakan salah satu selat tersibuk didunia, diperkirakan sebanyak 1,200 kapal melintasi Selat Malaka setiap harinya, Selat Malaka merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, sama pentingnya seperti Terusan Suez atau Terusan Panama. Selat Malaka membentuk jalur pelayaran terusan antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik serta menghubungkan tiga dari negara-negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia yaitu India, Indonesia dan Cina.

Pada tahun 2003 sebanyak setengah dari minyak dunia yang diangkut oleh kapal tanker melintasi Selat Malaka dengan jumlah yang mencapai sekitar 11 juta barel minyak per hari, dan diperkirakan meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi di Asia (terutama China, Indonesia dan Malaysia) dan Kawasan Asia Pasifik (Jepang dan Korea).

Sehingga bisa dikatakan Selat Malaka adalah urat nadi perekonomian dunia yang menjadi jalur penghubung perdagangan dunia. Namun sampai dengan saat ini Indonesia belum menikmati kesibukan selat tersebut. Semenjak adanya gejolak politik di Timur Tengah antara Arab dan Israel, kapal-kapal tangker yang besar-besar harus melalui selat Malaka untuk mencapai Jepang, Korea dan Negara-negara di Asia Pasifik.


Gambar  Jalur Utama Kontainer Dunia

Posisi geostrategis tersebut diatas merupakan karunia, yang tidak semua negara memilikinya, sehingga Indonesia dapat mengambil peran yang lebih untuk mengatur keberadaan selat tersebut dan mengambil devisa dari jasa-jasa alur pergadangan yang melalui laut.

Selat Malaka merupaka salah satu tantangan Indonesia saat ini dan dimasa yang akan datang seiring dengan terjadinya pergeseran pertumbuhan ekonomi dari negara-negara di kawasan Eropa dan Amerika ke Negara negara Asia dan Asia Pasifik.

Tantangan selajutnya adalah perdagangan dunia yang didominasi oleh perdagangan yang melalu jalur laut (seaborne trade). Seperti terlihat pada Gambar di bawah ini. Transportasi maritim memiliki signifikansi tinggi untuk perekonomian dunia, mengingat bahwa hampir 90% dari barang yang diperdagangkan melintasi perbatasan diangkut pada samudera dan lautan.


Sumber: UNCTAD, 2012

Gambar Grafik Indeks Produksi Industri Organization for Economic Cooperation and Development (OCED) , DB Dunia, dan Perdagangan Barang Dunia Serta World Seaborne Trade.

Selasa, 09 Juli 2013

Maritime Logistics dan Devisa Negara Indonesia

Devisa dari industri jasa maritime logistics didapatkan dari jasa-jasa kepelabuhanan dan jasa pelayaran (shipping). Namun untuk saat ini malahan mengalami defisit jasa transportasi sebesar 10,7 Juta US$, nilai defisit ini banyak disebabkan oleh meningkatnya transportasi untuk impor yang digunakan untuk membayar freigth impor barang tersebut yang bernilai sekitar 34 Juta US$, ini dikarena dalam impor tersebut kita masih menggunakan jasa kapal-kapal yang berbendera asing sebagai mana terlihat pada Tabel 1 dan Grafik 1.



Tabel 1. Neraca Pembayaran Indonesia (Juta US$) 2012
Sumber: Kementerian Keuangan R.I.


Sumber: Laporan Neraca Pembayaran Indonesia, Kementerian Keuangan
Gambar 1. Grafik Pembayaran Jasa Fright

Selama ini dalam urusan impor dan ekspor tergantung pada pelabuhan di Singapura dan Malaysia, sehingga setiap tahun ada sekitar 4,5 juta teus per tahun kontainer Indonesia yang mampir di Singapura atau Malaysia, maka devisa yang di keluarkan kurang lebih sekitar Rp 3,24 triliun sampai dengan Rp 3,64 triliun per tahun (tarif Container Handling Charge US$ 90/TEUs), ini angka yang cukup signifikan bagi perekonomian negara.

Miliaran dollar AS devisa negara hilang begitu saja dari dari Indonesia. Hal itu disebabkan belum memadainya potensi pelabuhan nasional untuk mengangkut muatan-muatan besar. Hingga kini, masih ada kontainer bermuatan 4 juta TEUs yang dari dan ke Indonesia yang harus diangkut melalui Singapura. Jika biaya angkut Jakarta–Singapura rata-rata 350 US$ per TEUs, berarti devisa yang dicaplok oleh singapura setidaknya setidaknya 1,4 miliar US$. Di sisi lain, total kontainer yang diangkut kapal asing mencapai 8 juta sampai dengan 10 juta TEUs per tahun ini senilai dengan 15 miliar US$, angka yang cukup besar yang mengakibatkan pengurangan devisa negara.

Biaya Logistik Indonesia

Sebagaimana kita pahami bahwa Indonesia adalah negara kepulaan dan kelautan terbesar di dunia, Indonesia memiliki kurang lebih 17.000 pulau, tentunya sangat memerlukan sebuah sistem jaringan transportasi dan logistik yang tersistem, sehingga disparitas harga produk-produk di kawasan Indonesia tidak jauh berbeda, inilah peran penting logistik terutama maritime logistics.

Namun kenyataannya saat ini kinerja logistik nasional masih belum optimal, hal ini ditandai dengan masih tingginya biaya logistik nasional yang mencapai 27% (dua puluh tujuh persen) dari Produk Domestik Bruto (PDB), ini artinya sistem logistik kita masih belum effisien yang dibuktikan dengan masih besarnya komponen biaya logitik dalam PDB tersebut. 

Ada beberapa hal yang menjadikan bukti nyata bahwa kualitas pelayanan logistik kurang memadai, yaitu: 
  1. masih rendahnya tingkat penyediaan infrastruktur baik kuantitas maupun kualitas, 
  2. masih adanya pungutan tidak resmi dan biaya transaksi yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi, 
  3. masih tingginya waktu pelayanan ekspor-impor dan adanya hambatan operasional pelayanan di pelabuhan, 
  4. masih terbatasnya kapasitas dan jaringan pelayanan penyedia jasa logistik nasional, 
  5. masih terjadinya kelangkaan stok dan fluktuasi harga kebutuhan bahan pokok masyarakat, terutama pada hari-hari besar nasional dan keagamaan, dan bahkan 
  6. masih tingginya disparitas harga pada daerah perbatasan, terpencil dan terluar. 

Bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang dan Amerika Serikat yang masing masing biaya logistiknya hanya 10% dan 7% dari PDB-nya.

Biaya logistik dari Jakarta ke Medan bisa mencapai sekitar US$400 per TEU's, sama dengan dari Jakarta ke Eropa. Bahkan, biaya logistik dari Jakarta ke Singapura hanya US$70 per TEU's, sedangkan biaya dari Jakarta ke Papua bisa mencapai US$1.400 per TEU's yang artinya biayanya dua kali lipat padahal masih dalam satu negara.

Minggu, 07 Juli 2013

'Logistics and Globalisasi"


Istilah logitik sering kali di dekatkan dengan istilah transportasi, yaitu proses perpindahan muatan barang ataupun orang dari satu tempat ke tempat yang lain. Sedangkan proses logistik adalah manajemen transportasi yang terhubung dengan segala hal pembelian dan kontrol dari jasa perpindahan Bisnis logitik adalah merupakan bagian dari proses supply chain yang berfungsi untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan keefisienan dan keefektifan penyimpanan dan aliran barang, pelayanan dan informasi terkait dari titik permulaan (point of origin) hingga titik konsumsi (point of consumption) dalam tujuannya untuk memenuhi kebutuhan para pelanggan (Coyle, John J, et.al).

Logistik juga disebut sebagai strategi mengelola dan pengadaan, pergerakan dan penyimpanan bahan baku, suku cadang dan persediaan produk jadi (finished good) serta arus informasi yang terkait dalam proses tersebut, melalui organisasi dan saluran pemasaran sehingga dapat memaksimalkan keutungan bagi perusahaan baik saat ini dan masa yang kan datang dengan biaya yang seefektif mungkin.

Logistik adalah bagian dari rantai pasok (supply chain) yang menangani arus barang, arus informasi dan arus uang melalui proses pengadaan (procurement), penyimpanan (warehousing), transportasi (transportation), distribusi (distribution), dan pelayanan pengantaran (delivery services) sesuai dengan jenis, kualitas, jumlah, waktu dan tempat yang dikehendaki konsumen, secara aman, efektif dan efisien, mulai dari titik asal (point of origin) sampai dengan titik tujuan (point of destination). Pada dasarnya obyek logistik tidak terbatas pada logistik barang, namun mencakup pula logistik penumpang, logistik bencana, dan logistik militer (pertahanan keamanan), sedangkan aktivitas pokok logistik meliputi pengadaan, produksi, pergudangan, distribusi, transportasi, dan pengantaran barang yang dilakukan oleh setiap pelaku bisnis dan industri baik pada sektor primer, sekunder maupun tersier dalam rangka menunjang kegiatan operasionalnya.

Globalisasi dan logistik merupakan dua perpaduan yang saat ini tidak mungkin kita pisahkan, dua hal tersebut saling berkaitan sangat erat. Globalisasi dapat diartikan adalah cara pandang kita terhadap dunia berubah yakni kita menggangap bahwa dunia ini tanpa ada batas negara, secara langsung dapat dikatakan bahwa dunia ini adalah sebuah negera. Bahwa saat ini sudah kurang relefan kita berbicara mengenai persaingan antar perusahaan, namun saat ini yang terjadi adalah persaingan antar negara.


Selain difinisi globalisasi diatas ada beberapa difinisi yang disampaikan oleh Jan Aart Scholte yaitu: Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain. Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi. Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.

Dalam kehidupan nyata globalisasi saat ini sangat kita rasakan misalnya, saat ini banyak produk-produk elektornik yang membanjiri pasar domestik ternyata dibuat di negara China, padahal dulunya merupakan perusahaan di kawasan Eropa dan Amerika misalnya Nokia, Blackberry, Dell dll. Contoh lain adalah, pabrik mobil Toyota saat ini hampir tersebar di seluruh penjuru dunia untuk memenuhi kebutuhan pasar di seluruh dunia, nilah fenomena globalisasi yang tak terbendung.

Sejalan dengan itu, berdasarkan kondisi geografis Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 (tujuh belas ribu) pulau yang terbentang sepanjang 1/8 (satu per delapan) garis khatulistiwa dengan kekayaan alam yang melimpah dan menghasilkan komoditas strategis maupun komoditas ekspor. Kondisi ini semestinya mampu menjadikan Indonesia sebagai “supply side” yang dapat memasok dunia dengan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki dan hasil industri olahannya, sekaligus menjadi pasar yang besar atau “demand side” dalam rantai pasok global karena jumlah penduduknya yang besar. Sehingga dibutuhkan Sistem Logistik Nasional yang terintegrasi, efektif dan efisien untuk mendukung terwujudnya peranan tersebut.